Monday, January 11, 2010

Mustafa As-Siba'i: Tokoh Dakwah Ikhwan Yang Disegani

E-mail Print PDF

As-Siba’i lahir di Himsh, Syria, tahun 1915. Keluarganya terpandang sebagai keluarga ilmuwan. Ayah dan datuknya penanggung jawab khutbah di masjid Jami’ di Himsh, dari generasi ke generasi.

desertKetika As-Siba’i bermaksud melamar seorang gadis, keluarga yang mengantarkan As-Siba’i ke rumah sang gadis mengatakan jika As-Siba’i sibuk mengurus dakwah Islam, jadi kemungkinan waktu luangnya sedikit untuk keluarga; apakah dengan keadaan seperti itu keluarga sang gadis akan tetap menerimanya? Tak tahunya pihak calon mempelai wanita setuju.

Waktu umurnya baru enam belas tahun, As-Siba’I sudah terlibat dalam melawan Peranchis yang waktu itu tengah “mampir” di Suriah. Gara-gara memimpin demo, dan mengedarkan risalah, dia ditangkap pada tahun 1931 oleh Peranchis. Setelah dibebaskan, dia kembali ditangkap gara-gara pidato-pidatonya yang dapat membakar dan mengobarkan semangat massa buat melawan Peranchis.

Tahun 1933, Musthafa As-Siba’i pergi ke Mesir, menimba ilmu di Al-Azhar. Waktu kuliah inilah, As-Siba’i berkenalan dengan Hasan Al-Banna dan gerakan Ikhwan. As-Siba’i ikut ambil bahagian mendirikan cabang Ikhwan di Syria. Tahun 1945, As-Siba’i dipilih sebagai Muraqib ‘Am Ikhwanul Muslimin Syria.

Kenangan Bersama Imam Syahid Hasan Al-Bana

Pernah, ada kejadian yang menarik antara Imam Hasan Al-Banna dan As-Siba’i. Ikhwan mempunyai sebuat akhbar, namanya Al-Ikhwanul Muslimun, dan suatu kali akhbar itu memuat foto Hasan Al-Banna dan Musthafa As-Siba’i, dengan komentar di bawah foto itu, “Panglima dan Tentera”. Langsung saja Imam Hasan Al-Banna menulis surat buat pemrednya, komplain soal tulisan itu.

Imam Al-Banna mengatakan, “Jika yang Anda maksud dengan kata panglima ialah Ustadz Musthafa As-Siba’i dan kata tentara ialah hamba Allah yang lemah ini yang setiap hari dan saat menganggap dirinya tentera dakwah kebenaran yang paling kecil, maka bererti anda memberi predikat sangat baik dan terima kasih saya sampaikan kepada anda. Jika yang anda maksud ialah makna yang cepat tertangkap di benak ketika pertama kali membacanya dan mengetahui posisi Mursyid dan Muraqib, maka saya berlindung diri kepada Allah dari apa yang anda lakukan dan minta maaf kepada Ikhwan atas apa yang anda tulis. Saya berharap permainan jurnalistik seperti ini tidak menjerumuskan anda pada ketidaktenteraman jiwa. Saya memohon kepada Allah semoga memberi taufik kepada kita menuju kebaikan, meluruskan langkah kita menuju apa saja yang mengundang kecintaan dan keredhaan-Nya, serta menyatukan hati untuk memperjuangkan kebaikan bagi tanah air tercinta ini.” Itu adalah hal yang tak dapat dilupakan siapapun ketika itu, termasuk As-Siba’i.

Tahun 1944, As-Siba’i pergi menunaikan haji untuk yang pertama kalinya. Tahun 1947, ia menerbitkan akhbar Al-Manar, walaupun dibredel oleh Husni Az-Zaim. Tahun yang sama, ia mendapat gelar doktor dalam perundang-undangan Islam dan sejarahnya, disertasinya berjudul As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami.

Sumbangsihnya untuk Islam

Di tahun 1948, As-Siba’I kembali ke Syria. Beliau dan anggota-anggota Ikhwan lain cuba memasukkan materi tarbiyah di kurikulum pendidikan. Beliau pun cuba membuka Fakulti Syariah di Universiti Syariah tahun 1955 dan jadi dekannya untuk pertama kali. Mulailah As-Siba’i merintis penyusunan ensiklopedia Fiqih Islam yang meliabtkan ulama dari penjuru dunia Islam untuk menyajikan Fiqih Islam dengan format baru, sunnah, fiqih ulama salaf, dan ijtihad ulama kontempori.

Tahun 1949, As-Siba’i terpilih jadi wakil kota Damaskus, padahal dia orang Himsh. Setahun kemudian, ia dinobatkan menjadi guru besar Fakultas Hukum Universiti Syria.

Siba’i juga menuntut kepada pemerintah Suriah agar mengizinkan ia dan Ikhwan berpartisipasi dalam perang di Mesir yang tengah melawan Inggeris di Terusan Suez. Tentu saja, pemerintah Syria langsung menangkap Musthafa As-Siba’i seterusnya membubarkan Ikhwanul Muslimin Syria. Belum lagi perintah pemecatan As-Siba’i dari Universiti Syria dan terus dideportasi ke Lebanon.

Tahun 1953, dalam muktamar umum Islam di Al-Quds, As-Siba’i jadi wakil dari Syria. Tahun 1954, As-Siba’i hadir di muktamar Islam-Kristian di kota Handun, Lebanon, tujuannya buat meng-counter musuh-musuh Islam dari kalangan orientalis dan orang-orang Kristian.

Sampai tahun 1957, As-Siba’i banyak melakukan perjalanan ke negara-negara Eropah, dari Italia Inggeris, Irlandia, Belgium, Belanda, Denmark, Norway, Sweden, Poland, Jerman, Swiss, Perancis, dan Rusia untuk melihat kurikulum studi Islam di negara-negara tersebut. Di sinilah, As-Siba’i menyingkap habis kesalahan-kesalahan kaum orientalis, baik secara ilmiah atau historis.

Semakin tua semakin produktif

Di tahun yang sama, As-Siba’i sudah mulai sakit-sakit. Uniknya, justru di masa-masa sakit ini, As-Siba’i malah produktif. Sehari sebelum meninggal ia menulis tiga buku yaitu Al-Ulama’ Al-Auliya’, Al-Ulama’ Al-Mujahidun, dan Al-Ulama Asy-Syuhada’.

Tujuh tahun lamanya, Musthafa melewatkan hari-hari bersama penyakitnya, akhirnya hari Sabtu tanggal 3 Oktober 1964, ia meninggal dunia di kota Himsh. Jenazahnya diiringi rombongan besar orang dan disholatkan di Masjid Jami’ Al-Umawi, Damaskus.

Ada perkataan yang menarik dari Dr. Husni Huwaidi tentang kondisi As-Siba’i waktu sakit. “Saya melihatnya ketika sakit, bersandar pada tongkat, berjalan di pagi dan petang hari menuju masjid, pada saat orang-orang sihat dan kuat enggan pergi ke masjid. Betapa sedikitnya orang sakit dan lumpuh, namun ia lebih kuat dari pedang terhunus. Kelestariannya dalam jihad, betapapun ia lumpuh, menderita sakit jantung dan hipertensi, tidak lain dalil nyata dan hujjah jelas bahawa karakter orang ini ialah jihad dan tabiatnya perjuangan, nalurinya pengorbanan, fitrahnya keberanian dan patriotisme. Bagaimana mungkin riya’ mendapatkan peluang menyusup ke hatinya, futur menemukan jalan mengusik jiwanya dan keraguan menemukan lorong merusak tekadnya? Maha suci Allah yang memberi karunia kepadanya lalu ia mensedekahkannya dan menimpakan ujian kepadanya lalu menjadikannya redha pada ujian.”



Dr Mustafa As-Siba'ie, Ulama dan Mujahid Syria





Sesungguhnya ada dua macam cinta yang tak dapat menyatu;
Cinta Allah dan cinta kemaksiatan. Cinta Jihad dan cinta kehidupan. Cinta pengorbanan dan cinta harta kekayaan. Cinta kebenaran dan cinta kepemimpinan. Cinta perdamaian dan cinta untuk membalas dendam. Cinta perbaikan “ishlah” dan cinta keselamatan. Cinta perjuangan dan cinta untuk hidup berleha-leha. Cinta keadilan dan cinta penghambaan. Cinta rakyat dan cinta thogut. Cinta untuk senantiasa berbuat baik dan cinta untuk berbuat curang (Musthafa Siba’i).

Begitu mendalam dan penuh makna untaian kata yang terucap dari bibir mujahid Suriah ini. Hikmah yang muncul dari perenungan lama dalam badai rintangan dakwah yang begitu panjang. Ia tahu betul bahwa dunia memang sudah diciptakan berpasangan. Dari kontemplasi terhadap pergumulan haq dan bathil lahirlah kata-kata monumental ini. Dengan mantap, iapun memilih berjuang dan berkorban demi tujuan tunggal, ridha Allah Swt..

Mutiara Melahirkan Mutiara
Tahun 1915, kota Hims di daratan Syam menjadi saksi lahirnya sosok bayi mungil yang kelak ternyata menjadi sosok besar yang disegani. Musthafa bin Husni As-Siba`i, begitu nama lengkapnya. Ia tumbuh di tengah keluarga yang agamis. Ayah dan kakeknya adalah khatib kondang di mesjid terkenal di kota Hims.

Ia amat terwarnai oleh sosok sang ayah, Syeikh Husni As-Siba`i. Seorang ulama yang gigih menantang kaum imperialis. Musthafa As-Siba`i pun kerap mengikuti pengajian yang dibawakan oleh ayahnya. Pengajian ini diikuti oleh ulama-ulama Suriah waktu itu. Seperti, Thahir Ar-Rais, Said Al-Maluhi, Faik Al-Atasi dan Raghib Al-Wafai. Suasana perjuangan inilah yang membawa Siba`i menjadi sosok pejuang bertalenta tinggi.

Mengais Ilmu Sepanjang Hayat
Siba`i kecil melewati pendidikan pertama dilingkungan keluarga. Ia menghafal Al-Quran dan mempelajari pondasi dasar ilmu-ilmu Islam dibawah asuhan sang ayah. Setelah menyelesaikan sekolah formal tingkat dasar dengan nilai yang memuaskan, ia melanjutkan ke sekolah tingkat atas syariah.

Karena dorongan dari orang tuanya, Siba`i meneruskan perjalanannya dalam mengais ilmu. Kala berusia delapan belas tahun, ia meneruskan pendidikannya ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia mengambil spesialisasi fikih, selanjutnya ke Usuluddin, dan meraih ijazah dengan predikat yang memuaskan. Di universitas yang sama ia melanjutkan program Doktoralnya. Pada tahun 1949 ia dapat meraih gelar Doktor di bidang Syariah Islamiyah dengan predikat summa cumlaude. Disertasinya berjudul “As-Sunnah Wa makânatuhâ Fî At Tasyrî’”.

Tatkala menempuh pendidikan di Mesir ini, Skenario ilahi berlaku. ia menjalin hubungan harmonis dengan Imam Hasan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Keharmonisan itu terus berlanjut hingga Siba`i pulang ke tanah airnya.

Pada tahun 1942, para dai-dai Suriah berkumpul dan sepakat untuk berjuang di bawah bendera Ikwanul Muslimin. Tahun berikutnya para dai dan ulama Suriah sepakat untuk mengangkat Siba`i sebagai pengawas umum Ikwanul Muslimin untuk Suriah

Kiprahnya dalam dunia akademis tidak berhenti. Ia dinobatkan sebagai guru besar di Fakultas Hukum Universitas Suriah pada tahun 1950. Siba`i pernah mengusulkan penyusunan ensiklopedia fikih yang ditampilkan dalam format baru. Ensiklopedi tersebut sekarang masih digarap oleh para ulama muslim dari seluruh dunia. Beliau pun berhasil memperjuangkan masuknya pelajaran pendidikan Islam dalam kurikulum pendidikan Suriah. Disamping membuka jurusan Syariah di Universitas Suriah (sekarang Universitas Damaskus).

Pada Tahun 1951, ia menghadiri muktamar Islam yang diadakan di Pakistan. Pada saat itu ia bersua dengan ulama dari penjuru negeri Islam. Tahun 1953, Siba`i dapat hadir dalam konfrensi Islam untuk pembebasan Al-Quds yang diadakan di kota Al Quds. Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan Ikhwanul Muslimin dari seluruh negara Arab, juga para tokoh dunia Islam, termasuk Dr. Muhammad Natsir dari Indonesia. Pada tahun berikutnya, 1954 Siba`i tampil untuk mematahkan argumen kaum orientalis dan salibis dalam Mu’tamar Islam dan Kristen di Libanon.

Perjuangan Tak Bertepi
Dari awal, sibai’ muda berbeda dengan pemuda-pemuda kebanyakan. Kehidupan yang sulit dan keras, ditambah kekuatan imperialis yang masih merongrong kemerdekaan tanah airnya, mempengaruhi kepribadiaan dan pola berpikirnya. Sikap ksatria dan patriotik tertanam dalam pribadinya.

Di usia yang masih sangat belia, ia telah berani berkata lantang melawan kaum penjajah. Ia aktif dalam kegiatan merebut kemerdekaan. Tidak heran, pada tahun 1931 di usianya yang baru menginjak angka enam belas, Siba`i telah merasakan dinginnya dinding penjara untuk kali pertama. Ia ditahan penjajah Perancis dengan tuduhan mengkoordinir penyebaran selebaran yang mengkritik kebijakan Perancis.

Setelah bebas, perjuangan Siba`i tak pupus. Kali kedua ia dijebloskan ke dalam penjara oleh pihak Perancis, akibat khutbah jumatnya di Mesjid Raya Hims yang dianggap mengobarkan ruh jihad melawan penjajah. Penentangannya terhadap penjajahan ia buktikan dengan memimpin langsung perlawanan senjata pada tahun 1945.

Tatkala mengeyam pendidikan Al-Azhar. Ia bersama para rekan-rekannya turut andil dalam unjuk rasa menentang penjajahan Inggris. Akhirnya ia pun harus meringkuk dalam sel. Tiga bulan berlalu, ia dipindahkan ke penjara Palestina selama empat bulan. Setelah itu ia dibebaskan dengan jaminan. Ia tidak diperkenankan untuk kembali ke Mesir, karena dianggap pioner gerakan anti Inggris.

Jihad Palestina
Pada tahun 1948, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan sebuah keputusan busuk dengan membagi tanah Palestina menjadi dua bagian: Palestina dan Yahudi. Resolusi ini membuat bangsa-bangsa Arab memutuskan untuk menghadapi Yahudi dengan bahasa perang. Pada saaat itulah, Siba`i maju dan mengajak bangsanya untuk membela keadilan dan kebenaran. Ia memimpin bangsa Suriah melalui bagian selatan Suriah yang berbatasan dengan Palestina. Ia memimpin langsung perlawanan dengan membawa pasukan Ikwanul Muslimin Suriah. Ia terjun dengan semboyan ”Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami”.

Sepulangnya dari Palestina, jihad Siba`i pun terus berlanjut. Kali ini ia berjihad di Suriah dengan tulisan dan kata. Ia juga membina generasi rabbani dengan semangat juang membumikan ajaran ilahi di muka bumi.

Kiprah di Media Massa
Media massa merupakan salah satu jalan untuk memperjuangkan keinginan dan idealisme. Hal itu dipahami betul oleh Siba`i. Pada tahun 1947 ia menerbitkan surat kabar bernama “Al-Manâr”. Ia menjadikannya sebagai sarana penyebaran nilai-nilai Islam, sekaligus menggugah pembaca untuk mengerti akal bulus kaum imperialis. Surat kabar ini eksis selama dua tahun, sebelum dibredel oleh penguasa pada tahun 1949.

Pada tahun 1955, Siba`i kembali menerbitkan satu surat kabar mingguan yang bernama “Asy-Syihâb”, dan eksis hingga tahun 1958. Setelah itu ia masih banyak menulis makalah seputar politik, sosiologi, sejarah, dan pemikiran.

Pada tahun yang sama, 1955, ia dapat menerbitkan majalah “Al-Muslimûn”. Ia dinobatkan sebagai pimred hingga tahun 1958. Dalam perjalanannya, majalah ini berganti nama menjadi majalah “Hadhârah Al-Islâm.” Ia mempunyai obsesi agar majalah ini dapat menjadi batu loncatan dan kawah candradimuka untuk penggemblengan umat Islam berlandaskan Al-Quran dan Sunnah.

Mereka Bicara Tentangnya
Duta besar Yordania untuk Suriah, Dr. Muhammad Shubhi, mengatakan: “Sesungguhnya ia (Siba`i) bak lautan. Siapapun bisa menimba air darinya sesuka hati, tanpa mengurangi air itu.”

Syeikh Muhammad Husni An-Nadawi mengatakan: “Tak ada yang memungkiri bahwa Dr. Musthafa Siba`i adalah guru besar gerakan Islam dunia. Ia adalah seorang dai pilihan, serta ulama dari generasi gerakan awal.” Sungguh ia adalah sosok pejuang besar yang melahirkan karya besar.

Karya-Karya Fenomenalnya
Sebagai seorang penulis produktif, Siba`i telah menelurkan banyak karya. Diantara goresan tintanya adalah: As-sunnah wa Makânatuha Fi At-tasyrî’, Al-mar’ah Bainal Fiqh wal Qanûn, Hakazâ ‘Allamatnî Al-hayâh, As-sîrah An-nabawiyah Durûs wa ‘Ibar, Min Rawâi’i Hadâratinâ, ‘Uzhamâunâ Fi At-tarîkh, Ad-dîn wa Ad-daulah Fi Al-islâm, Al-isytisyrâq wa Al-musytasyriqûn, Jihâdunâ Fi Falistîn, Manhajunâ Fi Al-islhâh, As-shîra’Bainal Qalb wal `Aql, dan masih banyak lagi.

Perginya Reformis Hims

Pada hari Sabtu, 3 Oktober 1964, bertepatan dengan 27 Jumadil Ula 1384 H., dunia Islam berkabung. Pada usia empat puluh sembilah tahun, tokoh besar itu menghadap rabb-nya abadi. Ia pergi setelah melalui perjuangan dengan segudang jasa bagi umat Islam dunia. Semoga perjuangan dan pengorbanannya dapat kita jadikan suri tauladan, agar kejayaan Islam dapat kembali menyapa bumi. A’innâ yâ Rabb.

Muhammad Abu Dzar, Lc.

Monday, September 7, 2009

ISRAK MIKRAJ 1

E-mail Print PDF

Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan berkumpul kepada kita, dalam rangka acara peringatan agung dan tercinta, iaitu peringatan Isra' Mi'raj.

Kita panjatkan puji syukur ke hadzrat Allah SWT. Kita ucapkan selawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwah Baginda hingga ke hari kiamat.

Amma ba'du. Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan berkumpul kepada kita, dalam rangka acara peringatan agung dan tercinta, iaitu peringatan Isra' Mi'raj. Setiap tahun kita berkumpul di bulan Rejab yang mulia. la adalah bulan yang diberkahi, waktu-waktunya merupakan kemuliaan rabbani. Barangsiapa yang berbuat baik, maka Allah akan menambah kebaikannya di dalamnya, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka Allah akan membukakan pintu ampunan untuknya pada bulan yang diberkahi ini.Di sini saya tidak akan membahas kisah Isra' dan Mi'raj secara mendetail, kerana anda semua tentu sudah mendengar dan membacanya. Tetapi kita akan mengadakan ulasan singkat saja. Isra' adalah perjalanan yang dilaksanakan Rasulullah saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi'raj adalah perjalanan samawiah yang dilaksanakan oleh beliau saw. dari Masjidil Aqsha ke langit paling tinggi.Kedua perjalanan ini dilaksanakan dalam satu malam dan dilak­sanakan oleh Rasulullah saw. sebagai manusia secara utuh. Kisah ini telah disentuh oleh Al-Qur'an dalam surat Al-Isra'. Ada orang bersikap ragu terhadap kisah Isra' dan bertanya, "Apakah kisah tersebut sesuai dengan hukum-hukum Allah yang berlaku bagi makhluknya? Mungkinkah manusia yang komposisinya terdiri dari daging dan darah serta memerlukan elemen-elemen material, dapat naik ke langit, padahal kita mengetahui bahawa di tempat tertentu terdapat ruang vakum dan pada titik ketinggian tertentu sudah tidak terdapat oksigen?" Saya pernah mengatakan kepada mereka, "Ini adalah kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu. la merupakan hal yang mungkin dan tidak mustahil dalam logik kekuasaan Allah. Tetapi, perlu saya tanyakan juga, apakah kalian mengetahui seluruh ilmu Allah yang telah lalu mahu pun yang akan datang?"Ikhwan sekalian, pada kenyataannya, ilmu moden telah menyingkap rahsia itu dan bahawa manusia mempunyai unsur lain selain unsur materi, iaitu unsur kejiwaan, yang disebut sebagai alam ruh atau alam kejiwaan. Sekalipun ilmu pengetahuan belum mampu menyingkap hakikat alam ini, tetapi ia telah sampai pada pengeta­huan bahawa ruh dapat menguasai badan sehingga dapat menguasai, membatasi, dan menundukkannya kepada hukum-hukumnya, bu­kan kepada hukum-hukum materi. Sebenarnya, beberapa kejadian dapat membuktikan hal ini. Ada sebahagian penganut sufi di India yang mampu menguasai badannya dengan kekuatan ruhnya serta bertahan selama satu minggu. Kita juga mengenal adanya hipnotis, yang menjadikan ruh menguasai badan, sehingga ia berubah menjadi mata yang rnelihat.Yang terjadi dalam kisah Isra' Mi'raj adalah, bahawa Allah swt. mengurniakan kepada Nabi-Nya yang mulia ini kekuatan ruhani yang besar, sehingga menguasai badannya. Ini bukan bererti bahawa beliau diisra'kan dengan badan tanpa ruh, tetapi diisra'kan dengan ruh dan jasad. Sebahagian orang bertanya, "Apakah hikmah Isra'Mi'raj?" Saya berkeyakinan bahawa Isra' Mi'raj adalah bahan dasar dalam kurikulum tarbiyah Ilahi. Sebab Allah swt. telah menyiapkan Rasul-Nya yang mulia agar menjadi penghulu para pendidik dan para pengajar. Maka beliau harus mempunyai kedudukan ilmu yang melebihi kedudukan-kedudukan yang dimiliki oleh manusia lainnya. Kerana itu, Allah mengelilingkannya di seluruh langit agar keimanan beliau merupakan keimanan yang berdasarkan penyaksian dan penglihatan, tidak sekadar keimanan yang berdasarkan pada keyakinan dan teori.Ada hikmah lain yang mengandungi nilai ketinggian dan kemahaan. Allah swt. telah mewajibkan salat kepada kaum muslimin pada malam Isra' Mi'raj. Allah tidak menghendaki kewajiban ini diperintahkan melalui wahyu sebagaimana halnya kewajiban-kewajiban lain, tetapi Dia mengundang Nabi-Nya yang mulia agar beliau men-jelaskan kepada manusia bahawa salat mempunyai nilai yang tinggi dan agung serta merupakan perkara dasar dalam kurikulum tarbiyah Islamiyah. Salat adalah kebersihan, keaktifan, kesihatan, ilmu, dan akhlak.Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Saiyidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Wednesday, January 28, 2009

Mohamed Mahdi Akef

What about the media smear campaign and verbal war launched from time to time against the Muslim Brotherhood?

Akef: Media is divided into two categories: mercenary media which we know very well and don"t answer back. I advise the Muslim Brotherhood members not to read or care about them. I do not take my view about the Muslim Brotherhood from such kind of press; I take it from reality. If I live inside the Muslim Brotherhood, it is their reality that guides me and assures me not the perversive press. Once a newspaper said that The Muslim Brotherhood will assassinate their chairman, and this is silly. I don"t read or respond to this kind of press.

The second kind of media claims seeking the truth, presenting pros and cons. I respect such people and welcome them. Even if they are skeptical, the reality on the ground and the future will prove that the Muslim Brotherhood is deeply rooted with its method, members and with its devotion to Allah and honesty with people. Time will prove this.

There is also another voice which is credible but unfortunately I do not know the source of its agenda. This media talks about the Muslim Brotherhood then say: “I am not with them and I differ with them on many issues”. They know the truth but a few of them declare their views. There are people of the Egyptian society: Men, professors, scholars and scientists who say their views honestly. I appreciate those specially, since as I have said before only men and women of resolve can do so.

Monday, August 18, 2008

Contoh Akhlak Anggota Ikhwanul Muslimin - Hassan alBanna

Para anggota Ikhwan mengamalkan peraturan Islam di dalam kehidupan harian mereka. Mereka berjiwa dan berakhlak Islam ketika berhubungan sesama sahabat atau pun dengan orang lain. Keadaan mereka ini merupakan contoh ketakwaan dan kemuliaan.

terusan_suez.jpg

Encik Masue Solent bertugas sebagai Ketua Jurutera Syarikat Terusan Suez. Satu hari dia memanggil seorang anggota Ikhwan yang bernama Hafiz untuk memperbaiki beberapa alat pertukangan kayu di rumahnya. Encik Solent bertanya mengenai upah kerja itu dan Hafiz meminta 130 Qursh. Encik Solent pun segera menjawab, ‘Awak seorang perompak’.

Hafiz dapat mengawal dirinya dari marah. Dengan penuh kesabaran, dia pun bertanya, ‘Bagaimana saya boleh jadi perompak?’ Berkata pula Encik Solent, ‘Awak meminta upah yang lebih dari yang berhak awak terima.’ Hafiz menjawab, ‘Saya tidak akan mengenakan apa-apa bayaran langsung pada kamu. Saya akan melakukan kerja itu dengan percuma jika salah seorang dari jurutera awak mengatakan saya meminta upah yang lebih. Jika jurutera awak itu mengatakan upah yang saya minta itu berpatutan, maka saya akan menebuskan maruah saya yang telah dicemari oleh kata-kata awak tadi.’

Encik Solent memanggil salah seorang juruteranya dan bertanya mengenai pah kerja tadi. Selepas melakukan kiraan, dia menetapkan upah kerja itu pada kadar dua ratus Qursh. Kemudian Encik Solent pun meminta Hafiz memulakan kerja. Tetapi Hafiz menjawab, ‘Saya akan melakukan kerja itu setelah awak meminta maaf di atas kebiadapan dan tuduhan awak terhadap saya. Saya mahu awak menarik balik kata-kata awak itu.’ Encik Solent pun naik radang dan berkata, ‘Siapakah awak sehingga sanggup menyuruh saya meminta maaf. Kepada Raja Fuad pun saya tidak akan meminta maaf jika dia ada di sini.’

Hafiz menjawab dengan kata-kata yang lembut, ‘Encik Solent, kini awak telah melakukan kesalahan kedua. Awak berada di dalam negara Raja Fuad. Awak sepatutnya tahu adab dan resam negara tuan rumah. Tidak patut sekali awak mengeluarkan kata-kata yang menghina seperti itu. Saya tidak akan membenarkan awak bercakap mengenai Raja Fuad dengan cara yang biadap seperti itu.’

Encik Solent mengalihkan pandangannya dari Hafiz dan mula berjalan mundar-mandir di dalam dewan yang luas itu sambil tangannya dimasukkan ke dalam poket. Hafiz meletakkan alat perkakasnya di lantai dewan dan terus duduk di atas sebuah kerusi. Suasana di dewan itu sunyi senyap seketika. Yang kedengaran hanyalah tapak kaki Encik Solent. Selepas beberapa ketika, dia mendekati Hafiz dan berkata, ‘Seandainya saya tidak meminta maaf, apa yang hendak awak lakukan?’

Hafiz menjawab, ‘Perkara ini senang saja. Mula-mula saya akan menulis kepada konsul dan duta awak. Kemudian saya akan memberitahu pihak atasan Syarikat Terusan Suez di Paris. Selepas itu saya akan menulis surat kepada ketua-ketua pengarang akhbar tempatan dan luar negeri. Di samping itu, setiap kali seorang ahli Majlis datang ke sini, saya akan menemuinya dan membuat pengaduan. Jika saya gagal di dalam usaha-usaha tadi, saya akan mencela awak di hadapan umum. Dengan cara ini saya mendapat dua keuntungan dan saya berazam penuh untuk melakukannya. Jangan menyangka saya akan mengadu kepada kerajaan Mesir kerana awak telah melemahkan kekuasaannya melalui pengaruh awak. Saya tidak akan berasa senang selagi maruah saya tidak ditebus.’

Encik Solent berkata, ‘Rasanya saya kini sedang bercakap dengan seorang pegawai tinggi dan bukannya seorang tukang kayu. Tidakkah awak sedar awak sedang bercakap dengan Ketua Jurutera Syarikat Terusan Suez? Bagaimana awak boleh terfikir saya akan meminta maaf kepada awak?’

Hafiz menjawab, ‘Tidakkah awak sedar Syarikat Terusan Suez berada di dalam negara saya dan bukannya di dalam negara awak? Lagi pun penguasaan awak ke atas Syarikat ini adalah sementara saja. Satu hari nanti, Syarikat ini akan jatuh juga ke tangan kami. Waktu itu, awak dan orang-orang seperti awak akan menjadi pekerja kami. Oleh itu, bolehkah awak membuat kesimpulan bahawa saya akan melepaskan hak saya?’

Selepas pertengkaran ini, Encik Solent masih terus berjalan mundar-mandir di dalam dewan itu. Sekali lagi dia mendekati Hafiz. Kali ini wajahnya kelihatan lembut. Dia menumbuk meja dengan sepenuh tenaga beberapa kali dan berkata, ‘Hafiz, saya minta maaf dan saya menarik balik kata-kata saya.’ Hafiz bangun. Dia puas hati. Dia mengucap terima kasih kepada Encik Solent dan memulakan kerjanya. Tidak lama kemudian, kerjanya pun selesai. Sebaik saja kerjanya selesai, Encik Solent memberinya seratus lima puluh Qursh. Hafiz mengambil seratus tiga puluh Qursh dan mengembalikan baki dua puluh Qursh kepada Eneik Solent.

Encik Solent memberitahunya, ‘Simpanlah dua puluh Qursah itu.’ Hafiz menjawab, ‘Tidak. Saya tidak mahu menjadi perompak dengan mengambil lebih dari hak saya.’ Encik Solent terpegun dan berkata, ‘Saya sungguh terkejut. Mengapakah kesemua orang Arab tidak menjadi seperti awak? Adakah awak dari keluarga Muhammad?’ Hafiz menjawab, ‘Setiap orang Islam adalah keluarga Muhammad, tetapi setengah orang Islam gagal berbuat demikian kerana mereka mengadakan kerjasama ekonomi dengan orang-orang Eropah dan juga kerana mereka menurut orang-orang Eropah secara membuta-tuli. Mereka telah menjatuhkan maruah mereka sendiri.’

Encik Solent tidak berkata apa-apa. Dia menjabat tangan Hafiz sambil mengucap terima kasih. Mereka pun bersurai.

Monday, August 11, 2008

al - Bai'ah

1. Al-Fahm ialah saudara hendaklah meyakini bahawa fikrah kita adalah fikrah Islamiyyah yang murni dan saudara hendaklah memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam lingkungan Dua Puluh Prinsip Asas yang serba ringkas..

2. Al-Ikhlas ialah saudara Muslim itu meniatkan setiap kata, tindakan dan Jihad yang dilakukan hanya untuk Allah SWT, mencari keredhaan dan ganjaranNya tanpa mengharapkan harta atau kemasyhuran atau kedudukan atau pangkat atau kemajuan atau kemunduran. Ini bermakna dia merupakan pejuang fikrah dan aqidah, bukan memperjuangkan matlamat dan kepentingan peribadi..

3. Al-Amal ialah hasil yang diperolehi daripada ilmu dan ikhlas. Peringkat kerja yang perlu dilakukan oleh seorang saudara yang jujur ialah memperbaiki diri sendiri, membina rumah tangga Muslim, membimbing masyarakat kepada Islam, membebaskan tanahair daripada unsur penjajahan, membetulkan kerajaan sehingga benar-benar bersifat Islam, mewujudkan kembali sebuah negara untuk umat Islam dan menjadi tonggak dunia dengan cara menyebarkan Islam ke seluruh pelusuk dunia..

4. Al-Jihad adalah satu kefardhuan yang akan terus diwajibkan sehingga Hari Kiamat. Tahap pertama Jihad ialah mengingkari dengan hati dan tahap yang paling tinggi ialah perang di jalan Allah SWT. Di antara dua tahap tadi ialah Jihad dengan lidah, pena, tangan dan menyatakan kebenaran di hadapan pemerintah yang kejam. Dakwah ini tidak akan bererti tanpa Jihad. Sehebat mana dan seluas mana dakwah ini, sehebat itulah juga Jihad yang diperlukan dan sebesar itu jugalah pengorbanan yang diperlukan untuk menyokong dakwah ini. Namun, ganjarannya juga besar untuk mereka yang berusaha..

5. Al-Tadhiyyah ialah berkorban menyumbang jiwa dan harta, masa dan nyawa serta segala-galanya demi mencapai matlamat. Di dunia ini, tiada Jihad yang tidak menuntut pengorbanan. Segala pengorbanan yang disumbangkan demi fikrah ini tidak akan disia-siakan, sebaliknya akan dibalas dengan ganjaran yang lebih besar dan pahala yang lebih baik.

6. Al-Taat ialah akur kepada perintah dan melaksanakan secara spontan dalam keadaan sukar atau senang, rela atau terpaksa. Ini kerana fasa dakwah ini ada tiga iaitu pengenalan (Takrif), Pembinaan (Takwin) dan perlaksanaan (Tanfiz)..

7. Al-Thabat bermakna seorang saudara Muslim terus menerus tabah bekerja dan berjihad untuk mencapai matlamat walau sejauh mana tempoh yang ditempuh dan memakan masa bertahun-tahun lamanya, sehingga dia bertemu dengan Allah SWT. Dia akan memperolehi dua kejayaan, sama ada dia mencapai matlamatnya atau dia mencapai syahid di akhir nanti..

8. Al-Tajarrud atau jati diri ialah anda memberikan tumpuan sepenuhnya kepada fikrah atau gagasan anda dan anda ketepikan semua prinsip dan tokoh lain selain daripada gagasan anda kerana gagasan anda adalah yang paling mulia, paling lengkap dan paling tinggi..

9. Al-Ukhuwwah ialah persaudaraan hati-hati dan roh-roh yang dihubungkan dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah hubungan yang paling ampuh dan berharga. Persaudaraan adalah saudara iman dan perpecahan adalah saudara kufur. Kekuatan yang pertama ialah kekuatan perpaduan. Perpaduan tidak akan wujud tanpa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang paling rendah ialah berlapang dada dan paling tinggi ialah mengutamakan orang lain..

10. Al-Thiqah ialah seorang pengikut yang berlapang dada terhadap pemimpin mereka, dalam hal kemampuan dan keikhlasan, dengan sepenuh rasa ketenangan yang mendalam sehingga menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan..


[Hassan al-Banna (2003), Himpunan Risalah. Salehan Ayub (terj.). Kuala Lumpur: Pustaka Salam Sdn. Bhd.]

Islam dan Waktu - Hassan alBanna

Islam datang berbicara tentang waktu. Islam menjelaskan tentang nilai waktu dan nikmatnya. Islam juga menjelaskan kepada umat manusia bahawa umur mereka terbatas. ”Tiap-tiap umat itu ada ajalnya tersendiri.” (Al-A’raf: 34)

Islam datang memperingatkan kita agar jangan sampai lalai. Islam menjelaskan bahawa yang paling bererti dalam kehidupan ini adalah waktu. Nabi saw. Bersabda,”Tidak ada satu hari pun yang fajarnya menyinsing kecuali ia pasti mengatakan,”wahai anak Adam, aku adalah ciptaan baru yang menjadi saksi atas amal perbuatan kalian. Berbekallah dengan menggunakan kesenpatan yang ada, kerana sesungguhnya aku tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat.” Waktu itu terbatas, dan perbuatanmu setiap waktu akan dihitung. ”Para malaikat siang dan malam secara bergiliran sentiasa mengawasimu.” Putaran siang berakhir hingga asar, dan putaran malam berakhir hingga subuh. Segala amal perbuatanmu yang baik mahu pun buruk akan sentiasa dihitung dan dicatat. ”Sebenarnya Kami sentiasa mendengar, dan utusan-utusan Kami pun sentiasa mencatat di sisi mereka.”(Az-Zukhruf: 80).”Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya, dan Dia mengutus kepada kalian malaikat-malaikat penjaga.”(Al-An’am: 61) clock.jpgIslam datang untuk menolehkan pandangan manusia agar melihat bahawa sesungguhnya Allah SWT. telah menganugerahkan kepada mereka sekian banyak hari dan waktu untuk diisi dengan perbuatan bermanfaat. Jika mereka mahu memperhatikan hal ini, mereka pasti berbahagia dan beruntung. Jika tidak, mereka pasti akan sengsara dan merugi. ”Maka tatkala mereka telah melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka telah girang dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan tiba-tiba, sehingga ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(Al-An’am: 44) Islam menjelaskan kepada kalian bahawa waktu kalian sangatlah terbatas. Ia merupakan anugerah dari Allah SWT. yang diberikan kepada kalian. Maka kewajiban kalianlah membekalkan diri dengan mengisi waktu, kerana dalam kehidupan ini, sesuatu yang paling mahal nilainya adalah waktu. Jika waktu telah berakhir, ia takkan dapat diganti. Bila telah berlalu, ia tak akan kembali. Kerana itu, Abu Bakar ra. Pernah berdoa,”Ya Allah, janganlah Engkau siksa kami secara tiba-tiba.” Allah SWT. telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat perkara: * Pertama: Dalam perkara yang dapat menyelamatkan keagamaan kita, iaitu berupa ketaatan kepada Allah SWT. Ini terbahagi kepada dua:o Perkara-perkara yang difardhukan oleh Allah kepada kita dan tertentu waktunya, seperti salat, zakat, puasa, haji dan seterusnya.o Perkara-perkara yang dianjurkan oleh Allah kepada kita berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawah Al-Quran, sodaqah, zikir dan membaca Selawat Nabi. * Kedua: Dalam perkara-perkara yang juga memberikan manfaat kepada kita , berupa mencari rezeki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga yang kita tanggung. Jika hal ini kita lakukan dengan ikhlas, ia menjadi amal ibadah. Rasulullah saw. Bersabda.”Barangsiapa di petang hari keletihan kerana bekerja, di petang itu dia mendapat ampunan.” * Ketiga: Dalam perkara-perkara yang mendatangkan manfaat kepada orang lain. Itu merupakan bahagian dari bentuk penghampiran (qurbah) diri yang paling agung. Rasulullah saw. Bersabda, ”Barangsiapa keluar rumah untuk memenuhi hajat saudaranya, ia seperti orang yang melakukan iktikaf di masjidku ini selama sebulan.” Hal ini memuatkan hakikat bahawa manusia seluruhnya adalah ”keluarga” Allah. Orang yang paling dekat denganNya adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Kerana itu, engkau mesti dapat memberikan manfaat kepada mereka, sama ada dalam aspek material atau pun lainnya. * Keempat: Dalam perkara yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, iaitu waktu istirehat. Kerana sesungguhnya badanmu itu mempunyai hak yang harus kau tunaikan. Kerana itu, tentukanlah waktu khusus untukmu, yang di situ kamu dapat memperbaharui kegiatanmu dan menyegarkan kembali semangatmu. Itu dapat dilakukan dengan cara berenang, memanah, menunggang kuda, santai yang baik, dan jenis-jenis ketrampilan olahraga lainnya. Sayangnya kita telah terbiasa untuk tidak mengenal nilai waktu dalam berbagai aktiviti kehidupan kita. Kita tidak menghargai waktu sebagaimana mestinya dan kita menggunakannya untuk hal-hal yang tidak ada kaitan sama sekali dengan Islam, seperti menonton filem, teater, tarian dan menghadiri kelab-kelab yang penuh maksiat. Kita bertaqlid kepada Eropah secara buta, lebih mengutamakan kegiatan itu daripada kegiatan yang baik dan amalan-amalan yang bermanfaat. Kita memohon kepada Allah SWT. taufiq yang kekal serta hidayah menuju jalan yang paling lurus. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada penghulu kita Muhammad, serta keluarga dan para sahabatnya.